Rumah

     Rumah adalah tempat kita berlindung, bertemu dengan keluarga, bertemu dengan terkasih, dengan manusia-manusia yang akan menjadi satu darah selamanya. Entah Ibu, Ayah, Kaka, Adik, Istri, ataupun Suami. Aku anggap, rumah adalah gambaran tersebut. Tapi, rasanya aku salah. Tidak pernah ada rasa aku memiliki rumah. Ada. Sedikit. 

    Sebelum menikah, aku hanya bisa bercerita dengan Ibu ataupun Adik. Dengan Kakak, sulit untuk membangun komunikasi dengan baik. Dua orang inilah yang bisa aku andalkan untuk menjadi telingaku. Keluh kesah hidup yang aku jalani. Hanya itu saja yang bisa ku ceritakan. Untuk berbagi rasa, sepertinya sulit dengan mereka. Hanya Ayah saja yang benar-benar menjadi telingaku. Benar-benar bisa merasakan kesebalanku dengan Ibu, ketidak cocokan dengan pacarku sebelumnya, rasa sakit yang kurasakan ketika aku sedang tidak enak badan, dan banyak lain hal yang benar-benar bisa kuceritakan. Namun, sudah meninggalkan ku terlebih dahulu. Yah... rasa rindu itu pasti selalu ada.

    Harapanku hanya dengan kedua orang keluargaku ini. Walaupun tidak seperti Ayah, setidaknya mereka mengurangi beban pundakku yang telah kujalani semasa hidup. Dan aku memang cenderung lebih ke Ibu. Sedih, tangis, marah, kecewa, bahagia, semangat, semua emosi yang aku punya, biasa ku ungkapkan ke Ibu. Kembali terjadi. Ibu meninggalkan ku menyusul Ayah. Anehnya, aku tidak menangis sesak seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Karena setelah Ayah meninggal, aku tidak tahu bagaimana aku harus meluapkan sedih itu. Dan entah kepada siapa. Sehingga ketika ditinggal Ibu, hanya sedih. Bukan sesak.

    Sekarang tinggal Adik yang jadi telingaku. Aku anggap, setelah tidak adanya kedua orang tua kita, kita bisa saling menguatkan menjadi telinga satu sama lain. Namun, ekspetasiku 'Keluarga adalah Rumah' hancur sudah. Adik tidak pernah tahu sedihku ketika dia lebih berterima kasih, lebih menghargai kepada orang lain daripada aku, Kakaknya yang berusaha menjaga, menjadikan dia sebagai 'Rumahku', merawat dia dari sakit sampai sembuh. Dia tidak melihatku sebagai 'Rumahnya'. Ekspetasi, kamu memang jahat, ya.

    Sekarang aku merasa sendiri ketika aku di 'Rumah'. Aku tidak bisa merasakan apa yang kurasakan ketika masih ada kedua orang tuaku. Adikku ke aku hanya butuhnya saja. Tidak tanya kabar, apa aku sehat, atau keadaan lainnya. Egois memang bila aku menganggap Adik seperti itu. Tapi, sudah kutela'ah dan memang tidak ada celah bila dia menggapku 'Rumah'. Temannya, pacarnya, adalah 'Rumah' bagi dia.

    Kecewa pasti. Tapi, hanya cukup tahu, kalau aku sudah tidak punya 'Rumah' untuk bernaung, hanya sebagai telinga, wadah, ketika aku sudah tidak sanggup untuk menompang semua sendiri. Adikku hanya sebagai tempat agar aku tetap waras.

Comments