Posts

Lelah

     Sakit kepala ini. Sungguh menganggu. Semua aktivitasku terganggu. Mood pun berubah banyak. Aku capek. Lagi-lagi aku sendiri yang harus cari solusi. Bagaimana aku mengatasi ini. Ada suara yang aneh di hatiku. "Keluar rumah saja. Lalu tabrakan mobilmu. Hantamkan mobilmu. Biar lega"     Sinting. Aku disuruh tabrakan mobil. Pernah aku juga mendengar di hatiku. "   Banting piringnya hingga berkeping. Kepingnya kau ambil biar menjadi luka di tanganmu"     Gila. Ini suara apa. Kepalaku sakit banget. Rasa ingin dilepas saja. Rasanya tak kuat aku. Tapi harus dijalani, berdampingan dengan rasa asing, sedih, sepi.     Pernah suatu hari cerita ke seseorang. Dan sarannya sungguh menggelitik senyum sinisku.  "Mangkanya, buat jadwal biar tahu mau ngapain kegiatannya."     Ucapan itu ketika dia tahu aku spontan menangis sendiri di rumah tanpa sebab. Perkataannya tidak salah. Tapi, apa bisa dicerna akal sehat? dicerna hati?   ...

Rumah

      Rumah adalah tempat kita berlindung, bertemu dengan keluarga, bertemu dengan terkasih, dengan manusia-manusia yang akan menjadi satu darah selamanya. Entah Ibu, Ayah, Kaka, Adik, Istri, ataupun Suami.  Aku anggap, rumah adalah gambaran tersebut. Tapi, rasanya aku salah. Tidak pernah ada rasa aku memiliki rumah. Ada. Sedikit.       Sebelum menikah, aku hanya bisa bercerita dengan Ibu ataupun Adik. Dengan Kakak, sulit untuk membangun komunikasi dengan baik. Dua orang inilah yang bisa aku andalkan untuk menjadi telingaku. Keluh kesah hidup yang aku jalani. Hanya itu saja yang bisa ku ceritakan. Untuk berbagi rasa, sepertinya sulit dengan mereka. Hanya Ayah saja yang benar-benar menjadi telingaku. Benar-benar bisa merasakan kesebalanku dengan Ibu, ketidak cocokan dengan pacarku sebelumnya, rasa sakit yang kurasakan ketika aku sedang tidak enak badan, dan banyak lain hal yang benar-benar bisa kuceritakan. Namun, sudah meninggalkan ku terlebih dah...

Prolog

      Aku hanya butuh didengar. Aku hanya butuh telinga yang bisa menampung semua keluh kesahku. Aku hanya ingin bercerita segala perasaan yang aku rasakan. Senang, sedih, marah, kecewa, bangga, dan perasaan lainnya. Aku hanya butuh seseorang untuk mendengarkan segala ceritaku. Tak masalah jika disambi  melakukan aktivitas lain. Tapi, tolong, hargai waktuku untuk bercerita.     Karena ketika aku sudah bisa bercerita, menandakan bahwa kepercayaanku dengan seseorang sudah muncul.           Karena ketika aku sudah bisa bercerita denganmu, maka aku sudah menganggap bahwa kamu adalah orang kepercayaanku. Wadah ceritaku. Yang bisa menampung segala ceritaku.       Tapi ketika kamu membutuhkan aku sebagai telingamu, aku siap pasang badan. Bahkan aku menjadi saranmu ketika kamu membutuhkan jalan keluar dari masalahmu.      Banyak diluar sana, selain kamu, yang berusaha menjadi telinga untuk aku. Berusa...